Skip to main content

Day 5 - Lean Manufacturing House

Lean Manufacturing House


Lean Manufacturing House

Dasar Lean Manufacturing Taiichi Ohno menyusun sistem Lean. Ini telah diperluas dan diperdalam oleh serangkaian praktisi yang luar biasa, termasuk (Dennis, 2015): 

a. Hiroyuki Hirano : sistem 5S. 

b. Seiichi Nakajima : Pemeliharaan produktif total (TPM) 

c. Kenichi Sekine : Aliran berkelanjutan 

d. Shigeo Shingo : Jidoka dan SMED


Lean Manufacturing House

Landasan sistem Lean adalah stabilitas dan standardisasi. Tiangnya adalah Just in time atau Pengiriman tepat waktu dari bagian-bagian produk dan jidoka, atau otomatisasi dengan prilaku manusia. Tujuan (atap) sistem adalah fokus pelanggan: untuk memberikan kualitas tertinggi kepada pelanggan, dengan biaya terendah, dalam waktu singkat memimpin waktu. Inti dari sistem ini adalah keterlibatan: tim yang fleksibel dan termotivasi anggota terus mencari cara yang lebih baik. Di Toyota setiap kegiatan saling berhubungan dan Kekuatan Toyota sistem adalah penguatan yang berkelanjutan dari konsep-konsep inti. 



Terdapat fokus 6 pilar pada Lean Manufacturing House, yaitu :

  1. Fokus kepada customer
    Memahami nilai dari sudut pandang customer / pelanggan lebih kepada apa yang diinginkan customer / pelanggan untuk proyek yang akan dibangun sesuai dengan rencana dan spesifikasi.
  2. Budaya / karyawan
    Memberikan nilai-nilai budaya kerja yang sesuai dengan proses dan memberikan pemahaman kepada tenaga kerja baik kegiatan, informasi, peralatan serta material yang diperlukan
  3. Standarisasi tempat kerja
    Keadaan ideal tempat kerja seperti kesehatan dan keselamatan para pekerja serta terciptanya komunikasi yang baik antara semua pihak dalam lingkungan kerja.
  4. Eliminasi waste
    Menghilangkan segala hal yang terjadi pada proses konstruksi, diantaranya : Defects (cacat produksi), Not Utilizing Talent (pemilihan tenaga kerja yang tidak sesuai keahlian), Over Production (produksi yang berlebih), Over inventory (kelebihan stok barang), Waiting Time (waktu menunggu), Unnecessary Motion (gerakan yang tidak perlu), Over Processing (proses yang berlebihan) dan Unnecessary Transportation (transportasi yang tidak perlu).
  5. Proses arus kerja
    keadaan yang sesuai dengan alur kerja yang sudah dibuat dan dilakukan untuk mencapai hasil dalam suatu proyek. diantaranya komunikasi yang jelas dengan semua pihak agar menghindari waste dari setiap kegiatan.
  6. Continuous Improvement
    Memberikan dan meningkatkan proses perbaikan secara terus menerus dan menghilangkan pemborosan pada proses konstruksi agar proyek selesai tepat waktu, sesuai anggaran dan dapat diterapkan kembali pada proyek selanjutnya.

Last modified: Thursday, 11 August 2022, 10:57 AM