Skip to main content

Day 18 - Production, Planning & Inventory Control

 Production, Planning & Inventory Control


Production Planning and Inventory Control (PPIC) adalah sebuah proses pengendalian aliran material masuk dan keluar dari sebuah sistem kerja yang bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar dan pendistribusian yang tepat sehingga dapat meminimalkan biaya produksi. Perancangan dan pengendalian produksi harus dilakukan di awal proses sebelum melakukan proses produksi, yang bertujuan untuk menentukan apa saja yang harus dilakukan pada awal hingga tahap akhir. Perencanaan juga tidak boleh diberhentikan hingga proses itu selesai karena hasilnya pasti tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga harus dievaluasi berkala dengan melakukan pengendalian. 

Pengertian Perancangan Produksi

Perancangan produksi sangat penting dalam merencanakan proses produksi. Perancangan produksi diharuskan memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

a. Berjangka Waktu

Proses produksi adalah sebuah hal yang rumit untuk dilakukan dan memiliki keterkaitan dari berbagai macam point dan proses tersebut menunjukkan adanya perubahan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, perencanaan yang baru harus disiapkan untuk mengatasi perubahan yang akan terjadi sehingga perancangan harus dilakukan secara berjangka waktu lama.

b. Berjenjang

Perancangan produksi tidak dapat dilakukan hanya sekali dan harus dilakukan secara berjenjang karena perencanaan produksi akan selalu bertingkat dari perencanaan produksi jangka pendek hingga perencanaan jangka panjang.

c. Terpadu

Dalam perancangan proses produksi harus dilakukan bersama-sama seperti menyatukan faktor-faktor untuk dijadikan satu rencana yang terpadu didalam proses produksi.

d. Berkelanjutan

Dari perancangan sebelumnya, rencana yang baru harus merupakan sistem yang melanjutkan perancangan sebelumnya, agar proses tersebut terus berjalan.

e. Terukur

Perancangan produksi harus menetapkan suatu nilai agar bisa diukur sehingga bila terjadi penyimpangan dapat digunakan sebagai alat untuk menjadi dasar penetapan.

f. Realistis

Perancangan produksi haruslah dikondisikan dengan kondisi produksi yang sekarang, agar target yang dicanangkan merupakan hal yang realistis untuk dicapai.

g. Akurat

Data yang didapat harus akurat agar tidak terjadi kesalahan sehingga pada tahap akhir dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran datanya.

h. Menantang

Perancangan prduksi harus dibuat dengan data-data dan target yang realistis sehingga akan mudah untuk pencapaian target produksi dan akan berusaha dengan sungguh-sungguh.

Pengertian Penjadwalan Produksi

Menurut (Herrmann, 2007) penjadwalaan produksi dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan meminimalkan biaya operasi. Penjadwalan produksi juga berguna untuk mengidentifikasi suatu masalah dari proses produksi itu tersebut, dimana dari masalah ketepatan pengiriman barang, dan mengidentifikasi periode waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi serta mengirim hasil produksi. Masalah utama dari penjadwalan produksi adalah prioritas dan kapasitas.

Pengertian Pengendalian Produksi

Menurut (Nasution, 2003) pengendalian produksi adalah sebuah usaha untuk mengontrol rencana produksi yang telah dijalankan oleh perusahaan, tanpa adanya kendali dalam sebuah produksi tentu rencana produksi yang telah dibuat tidak akan berjalan dengan baik. Pemegang kendali pada pengendalian produksi yaitu fungsi staf, oleh karena itu lini organisasi tidak berwewenang langsung. Pengendalian produksi bisa dikatakan baik jika laporan dari pengendalian tersebut langsung dilaporkan ke manager pabrik dan bukan ke bawahannya. Dari fungsi pengendalian pabrik, terdapat aktivitas-aktivitas sebagai berikut :

a. Mengukur realisasi dari rencana produksi
b. Membandingkan realisasi dengan rencana produksi
c. Mengamati penyimpangan yang terjadi
d. Menganalisa sebab-sebab terjadinya penyimpangan
e. Melakukan tindakan perbaikan

Definisi Peramalan (Forecasting)

Peramalan (Forecasting) adalah suatu proses memperkirakan kebutuhan di masa mendatang yang meliputi kebutuhan baik dalam bentuk kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam memenuhi permintaan barang atau jasa (Nasution,2003). Dari beberapa penjelasan pengertian tentang peramalan (forecasting) maka dapat disimpulkan bahwa peramalan adalah suatu dugaan terhadap masa depan dimana persiapan tersebut harus direncanakan secara matang sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Dalam perencanaan PPIC, metode peramalan (forecasting) khususnya tentang permintaan (demand) mempunyai peran sebagai perencanaan juga sebagai alat pengambil keputusan di bidang produksi dimana didalamnya terdapat aktivitas perencanan kebutuhan bahan baku, tenaga kerja, kapasitas produksi, dan mesin produksi di masa yang akan datang. Menurut (Alda Raharja, 2009) teknik peramalan terbagi menjadi dua bagian, pertama adalah peramalan subjektif dan peramalan objektif. Metode peramalan subjektif memiliki model data kuantitatif dan metode objektif memiliki dua model data yaitu model time series dan model kausal. Pada penelitian ini model yang digunakan adalah model time series, dimana time series merupakan model yang untuk memprediksi masa depan dengan menggunakan data terdahulunya.

Metode-metode Peramalan

Secara umum, metode peramalan dibedakan menjadi 2, yaitu metode peramalan yang bersifat subyektif yaitu peramalan yang didasarkan pada hasil-hasil diskusi, pendapat pribadi dan intuisi. Metode peramalan lainnya yaitu metode peramalan yang bersifat obyektif, yaitu peramalan yang didasarkan pada permintaan historis dengan mengikuti aturan matematika dan statistik. Peramalan yang bersifat obyektif dibagi lagi menjadi 2 yaitu metode intrinsik dan metode ekstrinsik. Metode intrinsik didasarkan pada permintaan historis tanpa memperhatikan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi permintaan tersebut, sedangkan metode ekstrinsik memperhatikan faktorfaktor lain yang mungkin mempengaruhi besarnya permintaan yang akan terjadi di masa mendatang. (Nasution, 2003) Metode ekstrinsik terdiri dari beberapa model, diantaranya:

a. Regresi Linear

Regresi linear atau regresi analisis merupakan salah satu metode peramalan yang cocok untuk menggambarkan satu set data berupa garis lurus. (Nahmias, 2009)

b. Double Exponential Smoothing dengan Metode Holt

Metode holt merupakan salah satu tipe double exponential smoothing yang buat untuk melacak deretan waktu dengan tren linear dan dua parameter

c. Metode Moving Average

Menurut (Gasperz, 2002) metode moving average dapat digunakan dengan data permintaan aktual terdahulu untuk membangkitkan nilai ramalan yang dihasilkan metode moving average.  Pengertian Master Production Schedule (MPS) Master Production Schedule (MPS) merupakan proses untuk membuat Master Production Schedule (MPS, Jadwal Induk Produksi) yang berkaitan dengan aktivitas seperti menyusun dan memperbaharui jadwal induk produksi, memproses transaksi, mencatat efektifitas dari jadwal induk produksi dan memberikan laporan evaluasi jadwal induk produksi. (Gaspersz,2012) Pada dasarnya Master Production Schedule berkaitan dengan aktivitas yang memiliki fungsi yaitu :

a. Memberikan input utama kepada sistem perencanaan material dan kapasitas.
b. Menjadwalkan pesanan produksi (purchased order) untuk item MPS.
c. Memberikan landasan tentang kebutuhan sumber daya dan kapasitas.
d. Memberikan dasar tentang pembuatan janji pengiriman produk kepada pelanggan.

Proses penjadwalan produksi induk membutuhkan lima input utama yaitu:

a. Data permintaan total (sales forecast and orders).
b. Status inventory (on-hand inventory, allocated stock, firm planned orders).
c. Rencana produksi agregat.
d. Data perencanaan (lot-sizing, shrinkage factor, safety stock, lead time).
e. Informasi dari RCCP (Rough Cut Capacity Planning).

Teknik Penyusunan MPS

Menurut (Gasperz, 2002) Dalam penyusunan MPS, terlebih dahulu harus diketahui informasi-informasi sebagai berikut:

1. Lead time, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau dalam pembelian suatu item.
2. On-hand, merupakan posisi inventory awal yang tersedia dalam stok.
3. Lot size, merupakan jumlah item yang biasa dipesan.
4. Safety stock, merupakan item yang sengaja dibuat untuk dijadikan stok sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan yang terjadi pada peramalan (forecast).
5. Demand time fence, merupakan periode mendatang dari MPS dimana perubahan-perubahan yang terjadi pada MPS tidak diizinkan.
6. Planning time fence, merupakan periode mendatang dari MPS, dimana perubahan yang terjadi pada MPS dievaluasi untuk mencegah ketidaksesuaian dalam jadwal produksi.
7. Time periods for display, yaitu banyaknya periode waktu yang ditampilkan dalam format MPS, bisa dalam satuan hari, minggu atau bulan.
8. Sales plan (forecasting), yaitu peramalan tentang permintaan yang akan terjadi di masa mendatang.
9. Actual orders, merupakan permintaan yang diterima dan bersifat pasti.
10. Projected available balance (PAB), proyeksi on hand inventory dari waktu ke waktu selama masa perencanaan.
11. Available to promise, merupakan data yang berkaitan dengan banyak produk yang dijadwalkan untuk diproduksi sehingga bisa dipastikan dapat terpenuhi atau tidaknya permintaan pelanggan.
12. Master production schedule, merupakan jadwal produksi yang berkaitan dengan kuantitas dari item yang akan diproduksi. 

Rough Cut Capacity Planning (RCCP)

Menurut (Gasperz, 2002) Rough Cut Capacity Planning (RCCP) merupakan proses konversi dari MPS ke dalam kebutuhan kapasitas yang berkaitan dengan sumber daya seperti tenaga kerja, mesin dan peralatan. RCCP juga berfungsi untuk mengetahui adanya sumber yang berpotensi menjadi bottleneck sehingga akan berguna dalam pelaksanaan MPS. Terdapat empat langkah dalam pelaksanaan RCCP, yaitu:

1. Memperoleh informasi tentang rencana produksi dari MPS.
2. Memperoleh informasi tentang struktur produk dan lead time, yang berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu produk.
3. Menentukan bill of resource, yang berkaitan dengan sumber daya mesin.
4. Menghitung kebutuhan sumber daya dan membuat laporan RCCP, yang berkaitan dengan penggunaan jam mesin yang memperhatikan efisiensi yang ada di perusahaan. Setelah semua langkah dikerjakan, barulah diketahui perbandingan antara kapasitas yang diperlukan dengan kapasitas yang ada. Apakah kapasitas yang ada cukup menunjang untuk memproduksi produk dalam jumlah x.



























Disagregasi rencana Agregat











Last modified: Thursday, 11 August 2022, 11:35 AM