Skip to main content

Day 21 - Built In Quality

Built In Quality

Built In Quality adalah membangun Kualitas Produk dari dalam proses-nya itu sendiri, atau dengan kata lain BIQ adalah konsep mencegah terjadinya cacat produk yang dilakukan oleh Operator langsung didalam dan disaat proses. Didalam konsep ini, Operator bertindak pula sebagai Inspektor Kualitas dalam satu rangkaian proses produksi. Mungkin ini bisa dikategorikan sebagai Smart Sistem. Dimana operator yang mengeksekusi pekerjaannya (entah itu pekerjaan input data ataupun pekerjaan produksi manufaktur) mengerti dan paham akan kualitas output yang mereka hasilkan. Sistem ini bukan tanpa kelemahan karena dalam Sistem BIQ operator dituntut untuk memiliki kemampuan sebagai pembuat (penginput) sekaligus inspektor, dengan demikian jika operatornya kurang mampu bertindak sebagai eksekutor dan inspektor ya sistem ini gak akan bisa jalan. Disamping itu juga diperlukan kejujuran dan displin yang tinggi, karena tidak ada manusia yang sempurna. Jadi jika operator melakukan kesalahan dengan meloloskan produk defect ke proses berikutnya yang kemudian tidak terdeteksi lalu berlanjut sampai final proses, seharusnya ya si operator yang melakukan kesalahan mau mengakui kesalahannya karena bagaimanapun juga dalam sistem BIQ ini biasanya dijalankan juga metode mampu telusur. Metode mampu telusur adalah metode yang bisa melakukan penulusuran balik kapan dan siapa yang mestinya bertanggungjawab membuat dan meloloskan defect hingga produk akhirnya Not Good. Ada beberapa Rule atau Control Point yang harus diperhatikan agar Sistem ini bisa berjalan dengan semestinya. 

  • Yang pertama adalah Proses kerja yang dilakukan harus benar sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Intruksi Kerja.
  • Yang kedua, kemampuan operator juga harus selalu di upgrade sehingga dia bisa bisa bekerja multifungsi untuk membuat produk, mengenali dan mendeteksi kemungkinan kesalahan (defect) yang (mungkin bisa) terjadi, entah karena faktor mesin atau faktor manusianya. Ada 4 Faktor yang biasanya digunakan untuk analisa masalah, yang dikenal dengan 4 M (Man, Machine, Material dan Methode).
  • Yang ketiga dan paling penting adalah membuat dan mengembangkan metode Pokayoke atau alat anti salah (nanti mungkin saya buat artikel tentang Pokayoke ini). Metode (alat) ini dimaksudkan untuk menghentikan proses (yang sedang berlangsung) saat ada kemungkinan terdeteksinya suatu kesalahan atau defect. Ketika proses (yang berjalan secara otomatis) berhenti (atau dihentikan oleh alat tersebut), disitu nanti akan diperlukan pemeriksaan secara manual untuk memeriksa ulang hasil proses yang terindikasi defect serta menelusuri akar permasalahannya.
Built in Quality, kualitas pembuatan / proses pembuatan, yang bukan melalui proses repair / perbaikan di proses selanjutnya.
Konsep, proses kerja yang benar, akan menghasilkan produk yang sesuai dengan kualitas yang diharapkan.

BIQ


  • Built in Quality (Kualitas dijaga atau dibuat di masing-masing proses)

BIQ

Pencegahan defect / cacat input dan output dilakukan oleh Inspeksi, sedangkan didalam proses  produksi dilakukan oleh operator sendiri.“ Quality dibuat di dalam proses “ , Operator bukan hanya mengerjakan , tetapi juga berfungsi sebagai Inspektur

Control Point : melakukan cara kerja dan proses kerja yang benar, meningkatkan kemampuan Operator, Mengembangkan metode Pokayoke

  • Total Quality (Seluruh Inspeksi dikerjakan oleh Operator)

total quality

Seluruh inspeksi ditiadakan Operator dilatih untuk dapat menjadi Inspektur untuk dirinya sendiri dan proses sebelumnya Inspektur.

Control Point : Membudayakan Build in Quality diseluruh proses, baik proses produksi , maupun non produksi.

·Built In Quality adalah membangun Kualitas Produk dari dalam proses-nya itu sendiri, atau dengan kata lain BIQ adalah konsep mencegah terjadinya cacat produk yang dilakukan oleh Operator langsung didalam dan disaat proses. Di dalam konsep ini, Operator bertindak pula sebagai Inspektor Kualitas dalam satu rangkaian proses produksi.


Last modified: Thursday, 11 August 2022, 1:50 PM