Skip to main content

Day 25 - Quality Assurance Matrix

Quality Assurance Matrix


Dalam Suatu Perusahaan, Quality Control Dan Quality Assurance Umumnya Merupakan Satu Divisi Yang Sama Karena Kedua Hal Ini Memang Mengacu Kepada Mutu. Namun, Walaupun QA Dan QC Sama-sama Mengarah Kepada Mutu, QA Dan QC Merupakan Dua Hal Yang Berada Pada Bidang Yang Berbeda. Mutu Telah Dikenal Sejak Empat Ribu Tahun Yang Lalu. Bangsa Mesir Kuno Mengukur Dimensi Batu-batu Yang Digunakan Untuk Membangun Piramida. Seiring Dengan Perkembangan Industri Saat Ini, Mutu Mengalami Perkembangan Sebagai Berikut : 

  1. Inspeksi (Inspection)
  2. Pada Tahun 1920-an, Para inspector Mengukur Hasil Produksi Berdasarkan Spesifikasi. Namun, inspector Pada Zaman Tersebut Tidaklah Independen. Hal Ini Menyebabkan Adanya Kecurangan Akibat Adanya Beberapa Kepentingan. Seandainya inspector Melakukan Penolakan Terhadap Suatu Proses Produksi Akibat output Yang Dihasilkan Tidak Sesuai Dengan Spesifikasi, Maka Bagian Pabrik Akan Tetap Meloloskannya Tanpa Memperhatikan Mutu Dari output Yang Dihasilkan.
  3. Pengendalian Mutu (Quality Control)
  4. Adanya Perang Dunia II Pada Tahun 1924-an, Mengharuskan Dihasilkannya Produk Militer Yang Bebas Cacat. Cara Yang Digunakan Yaitu Adanya Pengendalian Mutu Selama Memproduksi Produk Militer Tersebut. Hal Ini Menyebabkan Para inspector Beralih Menjadi Para Pengendali Mutu. Untuk Mendapatkan Hasil Penilaian Mutu Produk Militer Yang Baik, Maka Para Pengendali Mutu Ini Merupakan Pihak Yang Independen.
  5. Penjaminan Mutu (Quality Assurance)
  6. Sehubungan Dengan Adanya Rekomendasi Yang Diajukan Oleh Para Teknik-teknik Statistik Terkait Dengan Pengendalian Mutu Produk, Perlu Adanya Pihak Yang Melakukan Pengambilan Keputusan. Hal Ini Kemudian Menyebabkan Adanya Perkembangan Pengendalian Mutu Menjadi Penjaminan Mutu (Quality Assurance). QA Bertanggung Jawab Memastikan Proses Yang Berjalan Dengan Produk Yang Dihasilkan Sesuai Dengan Spesifikasi Yang Telah Ditetapkan Melalui Pelaksanaan Audit, Pelatihan Dan Analisis Kinerja.
  7. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management)
  8. Mutu Fungsi Produksi Bukanlah Satu-satunya Hal Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan. Seiring Dengan Perkembangannya, Manajemen Mutu Tidak Hanya Menjadi Tanggung Jawab Bagian Tertentu, Tetapi Menjadi Tanggung Jawab Setiap Individu Dalam Perusahaan. Inilah Yang Disebut Dengan Total Quality Management.

Quality Assurance (Penjaminan Mutu) Adalah Rangkaian Tindakan Terencana, Sistematis Dan Ditunjukan Untuk Meyakinkan Pelanggan Bahwa Persyaratan Yang Telah Ditetapkan Akan Dijamin Tercapainya. QA Lebih Berperan Sebagai Analyst Untuk Memperbaiki Suatu Produk/service Yang Datanya Diperoleh Dari sampling Bagian QC, feedback Dari Internal Perusahaan Maupun Adanya complain Yang Diterima Dari customer. Selain Itu, QA Juga Umumnya Berperan Sebagai Sertifikasi Atas Terjaminnya Mutu Suatu Produk/service.

QA Memiliki Kedudukan Lebih Tinggi Dari QC Dimana QA Bertugas Menentukan Layak Tidaknya Suatu Produk/service. QA Lebih Kepada Menjaga Image Perusahaan Dengan Mencegah Defect Kepada Konsumen. Parameter Yang Digunakan Yaitu Kesesuaian Produk/service Yang Dihasilkan Dengan Standar Yang Telah Ditetapkan. Secara Fungsi, QC Merupakan Orang Bagian Operasional/ Operator Yang Langsung Melakukan Aktivitas Pemeriksaan/inspeksi Terhadap Produk/service. Untuk Lini Produksi, Umumnya Adanya Seorang Pengontrol Mutu Produk Seperti sampling Dan Aktivitas Lainnya. Sedangkan, QA Bertugas Melakukan Analisis Terhadap Ketidaksesuaian Mutu. Kesimpulannya, QC Berperan Sebagai executor/operator Dan QA Sebagai conceptor.
Perbedaan Lain Antara QA Dan QC Yaitu, QC Merupakan Kegiatan Untuk Memantau, Mengevaluasi Dan Menindaklanjuti Yang Dibuktikan Dengan Adanya Data-data/Record. Sedangkan QA Merupakan Prosedur Untuk Mencapai Terjaminnya Mutu. Ini Berarti Bahwa QC Lebih Kepada Tindakan reactive Dan Pemecahan Masalah. QA Lebih Kepada Tindakan proactive Dan Pencegahan Terjadinya Suatu Masalah.


Jaminan Kualitas: Titik Awal dalam Membangun Produk

Jaminan kualitas sangat penting untuk produksi JIT dan produksi massal skala besar. Kualitas adalah karakteristik produksi yang paling mendasar, tidak peduli sistem produksi apa yang kita gunakan.

Point yang perlu diingat :

  1. Ikut iOperasi Standar
  2. Tetapkan “aliran satu bagian” bila memungkinkan untuk meminimalkan waktu tunggu produksi.
  3. Hentikan antrian setiap kali barang cacat diproduksi.
  4. Bertindak segera untuk melakukan perbaikan yang langsung menuju sumber masalah.
  5. Ingat: “Kualitas dibangun ke dalam produk di setiap proses.”

Lima Tingkat Pencapaian Jaminan Kualitas JIT


Struktur yang Membantu Mengidentifikasi Cacat : Cacat sebagai Bencana Buatan Manusia

  • Di pabrik mana pun, bahan dasarnya adalah manusia. Dan setiap kali kita memiliki orang, kita akan memiliki kesalahan.
  • Kesalahan dapat menyebabkan cacat dan kekalahan. Tidak peduli seberapa besar kita ingin menghindari kesalahan, cepat atau lambat kita akan membuatnya
  • Pendekatan pertama melihat kesalahan sebagai hal yang wajar dan tak terelakkan. Idenya adalah bahwa "berbuat salah adalah manusiawi" dan wajar saja jika orang akan membuat kesalahan sesekali. Pendekatan kedua melihat kesalahan sebagai kejahatan dan menyatakan, "Orang membuat kesalahan, tetapi mereka juga mampu mengurangi kesalahan mereka hingga hampir nol.".
  • Pendekatan yang lebih baik adalah yang kedua. Dalam mengambil pendekatan ini, kita harus ingat untuk mengarahkan kritik kita pada kesalahan itu sendiri dan bukan pada orang yang membuatnya. Hal penting lainnya adalah membangun komitmen yang kuat di antara karyawan pabrik untuk mencegah kesalahan dan mencapai tujuan zero-defect.


Prinsip 1 : Jangan Membuat Produk Surplus

Hanya membuat produk menciptakan peluang untuk menciptakan cacat. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa membuat produk tambahan menyebabkan cacat tambahan. Pabrik harus memproduksi hanya jumlah yang dibutuhkan oleh pelanggan. Membuat lebih dari itu menyebabkan cacat, dan karena beberapa alasan. Memiliki inventaris gudang membutuhkan penimbunan dan pengiriman barang gudang penimbunan dan pengangkutan pasti menyebabkan lebih banyak penyok dan kerusakan pada produk selama penanganan.

Prinsip 2 : Menyederhanakan dan Memfasilitasi Operasi Produksi

Saat membuat jumlah minimum produk yang diperlukan, kita tidak hanya harus menemukan cara untuk menyederhanakan proses produksi itu sendiri, tetapi juga, dalam konteks itu, menemukan cara untuk menyederhanakan dan memfasilitasi penanganan proses. Dua teknik kunci untuk melakukan ini adalah poka-yoke.

Prinsip 3 : Setelah Membuat Produk, Gunakan Itu

Cara paling efektif untuk meminimalkan cacat adalah dengan memanfaatkan benda kerja atau produk segera setelah diproses atau dirakit. Dua metode terbaik untuk ini adalah produksi aliran dan operasi multi-proses. "Penemu cacat terbaik adalah pengguna" dan, "Pakar terbaik dalam menciptakan cacat adalah operator".

Struktur yang Membantu Mengidentifikasi Cacat : Faktor dibalik Cacat




Struktur yang Membantu Mengidentifikasi Cacat : Penyebab Cacat



Overall Plan for Achieving Zero Defects : Kenapa Harus Terjadi Cacat



Quality Assurance Matrix


Last modified: Thursday, 11 August 2022, 1:55 PM